Jumat, 06 Januari 2012

Agar Jum'atan Lebih Berpahala




Jarum jam baru menunjukkan pukul 11.00 WIB, tapi masjid di dekat kantor sudah mulai ramai didatangi para jamaah yang ingin melaksanakan ibadah shalat Jum'at. Karena belum jam istirahat, saya belum bisa bergegas ke masjid. Pukul 11.15 WIB aktivitas di tempat kerja dihentikan sementara, saya pun bergegas menuju masjid. Alhamdulillah, belum tergolong yang terakhir datang karena masih dapat barisan depan, walaupun tidak di barisan pertama. 

Sungguh beruntung orang yang bisa datang ke masjid lebih awal pada hari Jum'at karena ada sebuah hadis yang menyebutkan,Pada setiap hari Jumat para malaikat berdiri di depan pintu masjid menuliskan nama-nama orang secara berurutan. Ketika imam telah duduk (di atas mimbarnya) mereka menutup buku catatannya dan duduk mendengarkan khutbahnya(H.r. Bukhari). Selain itu, orang yang datang lebih awal akan mendapatkan pahala sebagaimana dalam sebuah hadis, "Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum'at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur" (H.r. Ahmad).

Seperti sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum pukul 12.00 rangkaian ibadah Jum'at belum akan dimulai. Padahal, dalam kaidahnya ibadah Jum'at dimulai ketika masuk waktu Zhuhur, bukankah waktu Zhuhur tidak selalu pukul 12.00...? Beberapa menit menjelang tengah hari, salah seorang takmir naik ke atas mimbar untuk menyampaikan himbauan kepada jamaah untuk menonaktifkan alat komunikasi serta mengumumkan adanya kajian yang diadakan oleh pihak takmir masjid pada waktu-waktu tertentu. Selesai pengumuman, khatib naik ke atas mimbar. Setelah mengucapkan salam, muadzin pun mengumandangkan azan. Selesai kumandang azan, khatib pun mulai dengan khutbahnya. Ketika itu, kotak infak mulai diedarkan. 

Nah, kebiasaan mengedarkan kotak infak saat khutbah inilah yang bagi saya cukup mengganggu kekhidmatan dalam menjalankan ibadah Jum'at. Mungkin lebih tepat di serambi masjid diberi kotak infak sehingga jamaah dapat memasukkan infaknya kapan saja, tidak terpaku pada hari Jum'at. Bahkan pernah akibat seseorang yang dekat dengan kotak infak lupa mengedarkan, salah satu jamaah memberi isyarat kepada jamaah lain agar mengedarkan kotak infak tersebut dengan mengatakan, “Mas, kontak infaknya...!” Padahal sudah diketahui bersama bahwa jamaah dilarang melakukan aktivitas apa pun selain mendengarkan khutbah, apalagi sampai berbicara. 

Saya jadi teringat sebuah hadis yang menyebutkan, “Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jum’at, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jum’at saat ini dan Jum’at sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan kerikil, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela)(H.r. Muslim). Hadis yang lain juga menyebutkan, “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jum’at (dengan mengatakan) 'Diamlah!', sementara khatib sedang berkhutbah, sungguh engkau telah berkata sia-sia(H.r. Bukhari dan Muslim). Kalau bermain kerikil (menurut saya, memainkan krikil tidak ubahnya dengan mengedarkan kotak infak) saja sudah termasuk kesia-siaan apalagi sampai berkata-kata. Wallahu a'lam.

Sungguh, karena sudah menjadi kebiasaan terkadang hal yang kurang baik pun diamini. Lihat saja bagaimana lamanya sang khatib menyampaikan khutbahnya. Padahal esensi dari khutbah Jum'at adalah mengingatkan kaum Muslimin untuk selalu bertakwa, kapan pun dan di mana pun. Tapi kadang bagi sebagian khatib itu belum cukup sampai harus dipanjang-lebarkan khutbahnya. Terlebih, terkadang sang khatib menggunakan kitab berbahasa Arab yang harus dibaca dan diterjemahkan (apalagi yang 100% menggunakan bahasa Arab, apa semua jamaah bisa paham?). Menurut saya metode ini lebih tepat disampaikan di waktu dan tempat yang lain dan lebih tepat. Ada sebuah hadis yang menegur para khatib yang terlalu panjang menyampaikan khutbahnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya panjang shalat seseorang dan pendek khutbahnya merupakan tanda kepahamannya (dalam agama). Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah!(H.r. Muslim)

Bahkan, terkadang ada khatib yang agak nyeleneh--menurut saya--karena sang khatib menyampaikan materi yang mengundang gelak tawa jamaah atau malah menimbulkan diskusi antarjamaah. Sungguh hal yang tidak perlu dilakukan karena memang situasinya tidak tepat. Panjangnya khutbah terkadang juga berdampak kurang baik, misalnya jamaah sengaja datang terlambat / datang menjelang khutbah selesai karena menghindari khutbah yang terlalu panjang. Bahkan yang datang awal pun, sebagian besar menundukkan kepala, disinyalir karena mengantuk (tapi tidak semua, ada juga yang khusuk mendengarkan). Mungkin dalam hal ini berlaku kaidah bahwa sesuatu yang baik jika disampaikan dengan cara yang salah akan terlihat kurang baik.

Ini adalah fenomena yang hampir jamak di semua daerah, khususnya di Indonesia. Saya menyampaikan ini dengan maksud agar esensi dari ibadah Jum'at benar-benar bisa diresapi. Bukan hanya sebuah ritual yang berlalu begitu saja setiap pekan. Karena iman manusia terkadang naik dan kadang turun. Nah, ibadah di hari Jum'atlah yang seharusnya digunakan untuk selalu memupuk ketakwaan jamaah kepada Allah Swt. Selain itu, kebiasaan-kebiasaan yang memang menyelisihi sunnah Nabi bisa sedikit demi sedikit dihilangkan agar tidak sia-sia (kurang sempurna) ibadah jum'at kita. Harapan saya dan juga kita semua agar tidak dijumpai lagi khatib yang terlalu memanjangkan khutbah tanpa mengindahkan kondisi jamaah (karena keperluan jamaah di luar berbeda-beda), tidak ada lagi jamaah yang tertidur akibat panjangnya khutbah, dan tidak ada jamaah yang menyengaja datang terlambat untuk menghindari khutbah yang panjang. Semoga Allah selalu memberikan kita hidayah. Amin. []



Gambar: www.elvinmiradi.net

0 Komentar:

Posting Komentar