Selasa, 08 Mei 2012

Bidan yang Bijak


Kemarin, tepatnya tanggal 7 Mei 2012, saya dan istri memeriksakan kondisi kandungan ke salah satu tenaga medis di sebuah apotek. Dua hari sebelumnya sebenarnya kami sudah memeriksakan kondisi kehamilan, namun untuk mencari perbandingan hasil USG kami diminta untuk memeriksakan kondisi janin di tempat yang berbeda (saat ini usia kehamilan istri sudah di minggu yang ke-36).

Setelah di USG, bidan pun menjelaskan kepada kami terkait hasil USG-nya. Alhamdulillah hasilnya positif, hanya ada satu hal yang masih mengganjal, yakni kepala janin yang belum masuk ke panggul. Kami pun sempat panik dibuatnya, tapi untung sang bidan tanggap dan segera memberi keterangan yang cukup membuat kami tenang. Untuk mengatasi hal tersebut, kata bidan, istri saya harus rajin jalan kaki, latihan pernapasan, dan memperlama posisi sujud ketika shalat.



Selesai di tempat tersebut, kami menuju ke tempat satunya di mana kami memeriksakan kandungan pada dua hari sebelumnya. Kami sampaikan apa yang dipesankan bidan di tempat periksa tadi. Alhamdulillah bidan yang satu ini juga ikut menguatkan situasi batin kami terkait posisi kepala janin yang belum masuk panggul. Saran yang diberikan pun tak jauh beda, ditambah agar kami sering berdoa menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta, Allah Swt, setelah semua ikhtiar kami lakukan.

Sebelum pamit pulang, bidan yang kedua ini menanyakan tentang hal-hal terkait pasca-kelahiran; imunisasi. Dengan mantap kami pun menjawab bahwa kami tidak akan melakukan imunisasi terhadap calon bayi kami. Saya pun berpikir kira-kira apa reaksi sang bidan. Seperti bidan-bidan yang lain, ia menanyakan apa penyebab saya dan istri bersepakat untuk tidak mengimunisasi anak kami jika sudah lahir. Sebelum saya sempat menjawab, istri sudah dengan tegas mengatakan bahwa imunisasi yang ada saat ini belum jelas halal dan tidaknya. Alhamdulillah dengan jawaban ini, sang bidan tak berkata banyak; nyaris pasrah, “Kalau menyangkut agama kami tidak akan bertanya lagi.”

Seumur-umur baru kali ini saya menemukan bidan yang sangat bijaksana. Karena biasanya, jika jawaban yang diberikan kepada bidan seperti jawaban kami, maka bisa dipastikan pasien akan dicecar dengan berbagai pertanyaan medis yang pasien pun tak tahu maksudnya. Saya cuma berharap semoga bidan-bidan yang lain pun bisa seperti bidan tersebut, yakni bisa menghargai keyakinan kami sebagai umat Muslim yang sangat memerhatikan halal-haram sebuah produk yang akan dimasukkan ke dalam tubuh kami. Bagi Anda yang mungkin juga di situasi yang sama seperti kami, bisa juga menggunakan jawaban seperti yang kami lontarkan. Terakhir, mohon doa dari pembaca semua semoga proses kelahiran istri saya yang pertama ini bisa berjalan lancar. Amin. []



Gambar: 4.bp.blogspot.com

0 Komentar:

Posting Komentar